TSK Martinus, Korban Konspirasi Busuk atau Keserakahan

Dengan ditangkapnya tug boat 7/VII Barge TK CFH 102, serta ponton 270 feet bermuatan batu bara yang ditahan pada 13 Juni 2008 lalu, oleh Polair Polda Kaltim di perairan teluk Balikpapan, berdampak pada diri Martinus (45), warga Samarinda yang juga menggeluti usaha tambang emas hitam ini. TSK merasa dirinya tidak bersalah, aparat dalam hal ini menjalankan tugas asal tangkap. Ditengah aparat kepolisian seharusnya menjaga dan mempertahankan citra baik kepolisian, akhir-akhir ini justru citra kepolisian kian terperosok karena adanya tingkat kecerobohan dalam hal menjalankan tugas. Menurut TSK Martinus, jelas dalam hal ini Polisi salah tangkap. Bagaimana tidak, ditangkapnya kapal bermuatan batu bara yang akhirnya dijadikan barang bukti (BB) oleh pihak kepolisian, dengan alasan kesalahan administrasi, harusnya polisi lebih jeli mencari bukti, sehingga dapat memastikan dimana salahnya, dan siapa yang bisa ditetapkan sebagai tersangkanya. Jangan main paksa, asal tangkap tanpa dipelajari terlebih dahulu siapa yang terlibat pada saat dilakukannya aksi penangkapan.
“Padahal BB hasil tangkapan, dalam aksi jual beli batu bara hingga terjadinya penangkapan oleh Polair, justru saya sama sekali tidak terlibat didalamnya,” terang Martinus.
Transaksi hingga terjadinya penangkapan itu justru dilakukan oleh saudara Aman dan Edhi B. Ishastanto. Mereka membuat transaksi langsung dengan pemilik batu bara bernama Agus Tian Nur dan Honggri Harsono, yang kemudian mereka buat kesepakatan bersama bahwa, apabila dana tersebut tidak dikirim maka Honggri Harsono berhak menjual batu bara kepada pihak lain. Sebagaimana dituturkan Martinus, kemudian Aman memberikan cek BG nya sebagai jaminan. Karena sampai batas yang dijanjikan Aman dan Edhi B Ishastanto tidak memenuhi kesepakatan, maka 13 Juni 2008 lalu Honggri menjual batu bara tersebut ke pihak lain. Pada saat batu bara ditarik menggunakan ponton 270 Ft untuk dijual, maka dengan sigap Polair Polda Kaltim menangkap dan menahannya.
Menurut Martinus, “Anehnya, pasca penangkapan BB, saya dipanggil Polair Polda Kaltim, tanpa disertai adanya surat panggilan. Kemudian saya menghadap serta menunjukkan surat pernyataan sdr. Aman dan Edhi B Ishastanto, yang saat itu dibenarkan oleh Aman sendiri dan cs, lalu saya diperbolehkan pulang.”
Masih menurut Martinus, Pada tanggal 17 Juni 2008, BB batu bara dilepas kembali tanpa surat berita acara pelepasan dari Polair Polda Kaltim. Tanggal 18 – 23 Juni 2008 saya dipanggil sebagai saksi, oleh karena kesibukan saya, baru tanggal 2 Juli lalu saya memenuhi panggilan dan diperiksa sebagai saksi oleh Polair Polda Kaltim. Disinyalir ada sebuah scenario / permainan yang mereka buat, sehingga pada tanggal (8/8) lalu, tepatnya pukul 5.30 dini hari, saya dijemput paksa oleh Polair Polda Kaltim selagi saya di sebuah hotel BL. Anehnya, justru saya ditetapkan sebagai tersangka, padahal dalam hal ini yang tidak memenuhi kewajiban adalah sdr. Aman.
Penangkapan sangat dramatisir, disinyalir ini sebuah Konspirasi Busuk yang dibuat, dan menjadikannya Martinus sebagai tumbal, yang (dikorbankan). Ini mendapat tanggapan serius dari salah satu Organisasi Kepemudaan Ikatan Pemuda Karya (IPK) Kota Balikpapan, melalui ketuanya Ahmad Betawi.
“Mencermati masalah terkait adanya penangkapan Martinus seperti yang digemborkan di media massa beberapa waktu lalu, saya melihat adanya sebuah permainan rapi dan terselubung dari mereka yang akhirnya berkomplotan,” tegasnya.
Menurut Ahmad Betawi, “Semetinya pihak aparat, dalam hal ini pihak Polda Kaltim, harusnya segera mengadakan gelar perkara, agar permasalahan yang ada, dapat lebih diperjelas. Proses hukum harus ditegakkan dan jangan ada diskriminasi. Apalagi Citra aparat kepolisian saat ini sedang tajam disorot oleh berbagai elemen. Jangan semboyan Kepolisian sebagai ‘Pelindung, Pengayom dan Pengaman Masyarakat’ hanya dijadikan slogan dan ternoda dengan sifat arogansi oknum yang syarat akan kepentingan.”
Pada kesempatan terpisah, hingga berita ini dikorankan, Dit Polair Polda Kaltim Komisaris Besar Haris Fadilla, ketika dikonfirmasi melalui selulernya tidak sekalipun bersedia menerima jawaban. Bahkan ketika di konfirmasi melalui SMS, pun tidak perkenan membalas jawaban. Beberapa waktu sebelumnya, Buser mencoba menyambangi ke kantor Polair di kawasan Somber, dengan sigap anggota menyampaikan informasi bahwa pak Dit sedang berangkat ke Tarakan. Kemudian Buser menuju Markas Besar Kantor Polda Kaltim untuk memastikan keberadaan Dit Polair, ternyata beliau memang sedang tidak diruang dinasnya.
Terkait kasus penangkapan ponton dan BB batu bara yang dilakukan Polair kali ini, terdapat kejanggalan. Dimana BB nya raib entah kemana rimbanya, tersangkanya justru orang lain yang lebih dikorbankan. Sementara sederet orang yang terlibat lainnya, mendapat prioritas rasa aman diluar bebas sana. Mestinya, semua yang terlibat harus diproses hukum sama, ditahan dan dikurung sama, mengapa hanya seorang yang dijadikan tumbal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: