Resiko Usaha Hulu Migas

Oleh Heriyanto

SELAMA berabad-abad sebagian besar dari kita hanya tahu jenis dan bentuk minyak dan gas (Migas) yang sudah dikemas dan diperjualbelikan di pasaran. Masyarakat kemudian meradang ketika harga migas meroket seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman.

Sebagian besar dari kita tidak banyak yang tahu kalau usaha hulu migas ketika saat eksplorasi dan produksi sangat sarat dengan beban resiko menanggung kerugian yang besar. Bila kemudian meraup keuntungan, diperkirakan setelah beroperasi sekitar 5 tahun kemudian.

Resiko usaha hulu migas yang tinggi itulah yang membuat BUMN tidak mau berjudi, sehingga peran perusahaan asing atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lebih dominant di bumi pertiwi ini, sebut saja Chevron Indonesia Company, VICO Indonesia, Total E&P Indonesia dan lainnya yang beroperasi di Kalimantan Timur (Kaltim).

Usaha hulu migas, khususnya pada kegiatan eksplorasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena pada awal dari kegiatan yang membutuhkan teknologi canggih perangkat lunak maupun perangkat kerasnya serta dukungan sumber daya manusia (SDM) yang sangat professional di bidangnya. Manusia tanpa didukung sarana yang canggih tidak akan pernah mampu menduga besaran potensi migas di dalam perut bumi.

Kalau KKKS di tahapan ini mengalami kegagalan dalam menemukan cadangan migas, maka ratusan juta dolar dana mencari informasi geologis ini akan lenyap begitu saja, raib bagai ditelan bumi. Biaya itu tidak akan diganti sepeser pun oleh pemerintah kita. Itulah resiko besarnya yang harus ditanggung oleh KKKS.

Besarnya resiko usaha hulu migas ini, sehingga sampai saat ini belum ada perusahaan nasional atau BUMN yang berani secara mandiri tampil ke depan, meski saat ini sudah banyak ahli kita di bidang migas ini yang kemampuannya tak kalah dengan ahli bangsa luar.

Usaha hulu migas di dunia saat ini baru dilakukan sekitar 20 persen, karena 80 persennya masih dilakukan secara intensif dan berada di sebagian lapangan offshore atau lepas pantai. Sebab, teknologi untuk kegiatan offshore jauhlebih mahal dan canggih ketimbang yang dibutuhkan pada kegiatan onshore.

Usaha hulu migas memang sarat resikot kerugiab besar bagi KKKS. Tetapi itu tidak menyurutkan langkah perusahaan-perusahaan asing untuk terus memburu migas hingga ke hutan belantara Kaltim. Dan Kaltim yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) migas ini, sudah mulai menikmatinya sejak abad ke-20, atau tepatnya pada tahun 1902. Memang tidak ada tanggal yang pasti kapan migas ditemukan di Pulau Bunyu, Kaltim. Survey lapangan pertama dilakukan oleh Baataafsce Petroleum Maatchapij (BPM). Dan 20 tahun kemudian usaha-usaha untuk mengeksplorasi minyak dan gas di Pulau Bunyu dilanjutkan oleh perusahaan Nederlanche Indische Aardolie Maatchapij (NIAM). Perusahaan ini merupakan perusahaan kerjasama antara Baataafsce Petroleum Maatchapij (BPM) dengan kerajaan Belanda.
Kala itu, suasana di Pulau Bunyu masih sangat sepi. Sekarang saja masih sepi, apalagi jaman dulu. Itu jika dibandingkan dengan suasana di kota Balikpapan, tempat kilang minyak berada. Pada 1951, sumur pengeboran dengan kode B-17 sudah selesai dibangun dan menjadi sumur pertama di Pulau Bunyu yang memproduksi migas, dan dikerjakan oleh perusahaan NIAM. Delapan tahun kemudian (1959), NIAM diubah namanya menjadi PT PERMINDO yang kemudian dilikuidasi oleh pemerintah Republik Indonesia, dan nama perusahaan itu diubah lagi menjadi PN PERMINA. Pada tahun 1971, nama PN. PERTAMINA berubah menjadi PERTAMINA.

Tidak lama setelah itu, kandungan migas juga ditemukan oleh perusahaan ARII di lapangan Sembakung dan Bangkudulis. Dan pada tahun 1984 kedua lapangan migas tersebut diserahkan kepada PERTAMINA. Hingga kini produksi crude oil (minyak mentah) dari lapangan tersebut diangkut dan ditampung di tangki-tangki besar penampungan di unit Terminal Pertamina Field Bunyu. Secara periodik produksi crude oil dari Bunyu dan lapangan Sembakung diangkut oleh tanker menuju unit pengolahan di Balikpapan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: