Retribusi Parkir menjadi Pro & Kontra

Retribusi Parkir menjadi Pro & Kontra

Kecil tarifnya namun sangat menggiurkan, itulah retribusi parkir. Miliaran rupiah setiap bulannya bisa diraup dari jasa parkir di pingir jalan. Karena nominalnya yang sangat besar, retribusi parkir dinilai dapat mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah) kota Balikpapan kedepan. Bayangkan, seorang juru parkir (jukir) liar di kawasan Klandasan Balikpapan bisa mendapatkan uang minimal 150 ribu rupiah setiap harinya.

DPRD Balikpapan beberapa waktu telah melakukan kunjungan kerja ke beberapa kota di Sumatera seperti, Padang, Palembang dan Pekanbaru untuk melihat seberapa besar keberhasil pemungutan retribusi parkir kendaraan baik roda dua dan roda empat bahkan kendaraan angkutan berat diatas sumbu roda 8 ton untuk PAD, DPRD Balikpapan saat ini tengah mempersiapkan perda (Peraturan Daerah) sebagai perangkat hukum untuk pemungutan retribusi parkir di Balikpapan.

Namun rencana untuk mengumpulkan retribusi parkir di Balikpapan ini rupanya tidak berjalan mulus, sejumlah kalangan menilai retribusi parkir belum bisa di tarik untuk PAD karena pemerintah kota Balikpapan harus mempersiapkan sejumlah fasilitas dalam dunia parkir seperti kantong-kantong parkir untuk kendaraan roda 2  dan roda 4.

Tidak sedikit kantong-kantong  parkir yang harus di persiapkan pemerintah kota Balikpapan untuk wilayah jalur kota yang ramai seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MT.Haryono dan Jalan Letjend Soeprapto. Anggaran yang dikeluarkan jika menggunakan APBD sangat besar, diperkirakan hampir seratus miliar rupiah anggarannya, anggaran ini meliputi biaya pembebasan lahan untuk kantong-kantong parkir yang sepenuhnya di kuasai oleh warga, biaya pembangunan serta petugas penjaga parkir.

“Sah-sah saja kalau pemkot dan DPRD berupaya mendongkrak PAD untuk Balikpapan, maksud dan tujuannya untuk pembangunan kota ini juga, pemungutan retribusi parkir kendaraan harus menempuh beberapa kajian, pemkot tidak boleh langsung memungut retribusi parkir di pinggir jalan tanpa mempersiapkan kantong-kantong parkir, retribusi telah dibayar para pemilik kendaraan setiap tahunnya di samsat, yach yang ada dibalik SNTK itu adalah retribusi parkir yang kita bayar, percuma kita bayar pajak kendaraan setiap tahunnya jika setiap hari harus bayar parkir lagi”, kata Asnawi, seorang tokoh masyarakat di Balikpapan.

“Rtribusi parkir bisa dipungut apabila ada fasilitasnya, tempat parkir yang disiapkan, tempat-tempat yang bersifat privat, hotel atau mall, karena tempat seperti ini di bangun dan dikelola oleh pihak swasta, boleh jadi kalau pembangunan kantong-kantong parkir di bangun oleh pihak swasta dengan kerjasama pemkot, misalnya bagi hasil dan sebagainya, jika ada kantong parkir maka dengan otomatis mengurangi kemacetan di jalan-jalan raya di tengah kota”, tambah Asnawi kembali.

Penolakan keras banyak dilontarkan oleh para pengemudi roda 2, untuk pemungutan retribusi parkir dengan segudang persyaratan diantara keamanan untuk kendaraan bebas dari pencurian dan pengrusakan, jika ada motor yang hilang maka pemkot harus berkomitmen untuk mengganti rugi tersebut.

“Saya tidak setuju kalau kita pemilik motor di pungut uang parkir lagi, kita bayar pajak kendaraan setiap tahun, apalagi biasanya kalau helm atau motor kita hilang pengelola parkir tidak bertanggung jawab sama sekali, cuma minta  uang kita aja, baik juru parkir liar dan yang resmi dari Dishub sekarang ini sudah sangat merepotkan, kalau juru parkir liar biasanya para pengangguran yang tidak punya pekerjaan yach saya rasa wajar saya, jukir liar juga lebih aman kalau menjaga motor daripada parkir di mall, sayangnya lagi para juru parkir resmi dibawah naungan Dishub, mereka sudah di gaji pake uang rakyat Balikpapan masih juga mungutin uang parkir”, tutur Lia seorang pengendara sepeda motor kepada New Eksekutor.

Sementara itu ide lain dilontarkan pula oleh M.Ali, ayah dari tiga orang anak yang kesehariannya menggunakan transportasi sepeda motor ini mengatakan pemkot tidak perlu repot memunguti retribusi, cukup dengan menaikkan pajak setiap kendaraan dan diambil setiap tahunnya di Samsat.

“Gak usah repot-repot kalau pemerintah kota Balikpapan mau memungut retribusi parkir kendaraan untuk peningkatan PAD, cukup menaikkan pajak kendaraan bermotor dalam membayaran pajak di Samsat, nah untuk kendaraan yang suka parkir di pinggir jalan dan bikin macet itu perlu ditindak tegas, sangsinya harus berat dan di gembok seperti yang sedang berlaku di daerah lain atau Jakarta itu”, kata M.Ali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: